Bantahan Ramalan Imam Mahdi 2015 sudah Terbit
Katagori : Resensi & BukuSetelah menanti begitu lama, akhirnya buku Jawaban Untuk Jaber Bolushi telah terbit.
Karya Ketiga dari Armansyah …
RAMALAN IMAM MAHDI 2015 : Akankah ia datang pada 2015 ?
Penerbit : Serambi, 2008
ISBN: 978-979-024-081-0
303 hal. /HVS
Ukuran: 15 x 23 cm
Terbit: Agustus 2008
Harga:
SC: Rp. 49.900,00
Kiamat sudah dekat. Malah ada yang meramal Imam Mahdi, sang juru selamat, akan datang pada Oktober 2015. Benarkah?
Pada zaman yang semakin canggih ini, keyakinan akan hadirnya Imam Mahdi tidak sirna begitu saja. Bahkan mungkin sangat ditunggu. Perkembangan sains membawa tafsir baru yang lebih ilmiah dan terukur untuk menaksir ayat-ayat yang meramalkan kedatangan sang juru selamat. Tak heran belakangan muncul nabi-nabi sekunder hingga sekte-sekte penjemput kiamat. Sebut saja Lia Aminudin, Ahmad Musaddiq, Sakti A Sihite, Sayuti, dan sebagainya. Kita menyaksikan periode sejarah yang sarat dengan ramalan kedatangan Imam Mahdi dan Hari Kiamat.
Teologi apokaliptik merupakan bagian erat dari tradisi agama semitik, yakni Yahudi, Kristen, dan Islam. Teologi itu mewahyukan penyingkapan tabir-tabir kegaiban seputar ramalan, hari kiamat, doomsday, Armageddon, kedatangan Imam Mahdi atau Mesiah.
Sedari awal, agama-agama dalam rumpun Ibrahimi itu hadir dengan kepercayaan yang meniscayakan pembalasan akhir; surga bagi kebaikan dan neraka bagi keburukan. Keyakinan akan datangnya Imam Mahdi sebagai juru selamat dianggap sebagai era mengakhiri kekacauan (chaotik) dengan membawa risalah menggapai era keemasan dan kebenaran paripurna.
Atas dasar ajaran yang terwarisi ini, mahdiisme atau mesianisme bukan sekadar berita Ilahi yang diturunkan ke muka bumi. Akan tetapi, ia kemudian menjadi penggerak dari pelbagai mazhab dan sekte hampir di semua agama Ibrahimi, termasuk Islam.
Konsepsi dan formulasi yang menandai mahdiisme terus berkembang dan menjawab berbagai tantangan di setiap zaman, bahkan dalam riwayatnya yang mensakralkan kekerasan. Di dalam Islam, tradisi Syiah dan Sunni tidak pernah luput dari teologi apokaliptik itu. Klaim keselamatan dan kebenaran pun kerap kali merasuk dan membingkai keimanan, entah ada yang memaknainya untuk menyemai perdamaian di antara umat beragama, ada pula yang memaksakan kehendak pada tafsir yang tunggal.
Di era global yang sudah canggih sekarang ini, teologi apokaliptik tidak sirna begitu saja. Ilmu pengetahuan moderen tidak serta merta menghapus "ketakhayulan" yang meliputi teologi apokaliptik itu.
Perkembangan sains justru membawa tafsir baru yang lebih ilmiah dan terukur dalam epistemologi pengetahuan untuk menaksir ayat-ayat mesianik. Teologi apokaliptik semakin digugat dan dipertanyakan, masa di saat banyak nubuat yang meramalkan kejadian kiamat, bermunculnya nabi-nabi sekunder, sekte-sekte penjemput kiamat, hingga banalitas kejahatan politik global. Umat manusia menyaksikan periode sejarah yang sarat dengan kalkulasi apokaliptik.
Buku ini datang pada saat yang tepat. Setelah memberi jawaban teologis mengenai kemunculan Imam Mahdi dalam tradisi Islam sekaligus Yahudi dan Kristen, buku ini membantah ramalan Jaber Bolushi tentang kiamat 2015. Buku ini menguak manipulasi data, aksi “akrobat ayat”, hitung-hitungan yang problematis, dan inakurasi penghitungan yang dilakukan Bolushi. Polemik dibingkai dalam telusur ilmu pengetahuan yang mudah dicerna dan tidak spekulatif.
Ditulis dengan gaya ulas ringan dan mengalir, buku ini menyajikan untuk kesekian kalinya tegangan antara sains dan agama, yang masih memungkinkan adanya titik temu dalam belantara kemisteriusan Tuhan. Sang penulis yang memiliki silsilah keturunan Nabi (habib) mampu meletakkan ramalan kedatangan Imam Mahdi dalam argumentasi yang proporsional. Selain meluruskan akidah, buku ini kaya data menarik dalam sejarah, sains, dan peramalan.
Tentang penulis:
ARMANSYAH, penulis buku Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih: Sebuah Pelurusan Sejarah dan Jawaban untuk Dinasti Yesus dan Jejak Nabi Palsu: Dari Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminudin hingga Ahmad Musaddiq. Kini dia menetap di kota kelahirannya, Palembang, Sumatera Selatan.
